Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah dibalik 1002 Bait Nadham Alfiyah Ibnu Malik

Kisah dibalik 1002 Bait Nadham Alfiyah Ibnu Malik

Dalam khazanah cendekiawan pesantren di tanah Nusantara, ada satu kitab bersejarah yang kerap ditelaah dan dihafalkan khususnya para santri, yaitu kitab Alfiyah karya dari Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik at-Tha'i al-Andalusi. Publik umum lebih mengenali beliau dengan panggilan Imam Ibn Malik. Beliau berasal dari sebuah wilayah yang dikalahkan oleh pasukan muslimin di bawah pimpinan panglima besar Thariq bin Ziyad.

Wilayah ini juga sebagai tempat pelarian terakhir Saqor Quraisi (rajawali dari qabilah Quraisi) yang lari dari kejaran orang-orang Bani Abbasiyah yang sudah sukses tundukkan kekuasaan Daulah Bani Umayyah. Wilayah itu ialah Andalusia yang saat ini lebih dikenali dengan negara Spanyol. Dan adikarya yang sukses beliau (imam Ibnu Malik) catatkan ini selanjutnya dikenali oleh seluruh umat muslim di dunia dengan nama "Alfiyah Ibnu Malik" yang mengulas mengenai kaidah-kaidah ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf.

Di awal nadham bab muqaddimah (pendahuluan), beliau memakai lafadz dari fi'il madhi, yakni fi'il (kata kerja) yang dalam realisasinya terdapat zaman madhi (periode yang telah lewat/terjadi). Ini merupakan hal yang tidak wajar, di mana mushanif-mushanif (beberapa pengarang) kitab lain dalam memulai penyusunan kitabnya, mereka seringkali dan condong memakai lafadz dari fi'il mudharik yang terdapat dua zaman, yaitu hal (periode yang terjadi/dilaksanakan) dan mustaqbal (periode yang bakal dilaksanakan).

Bait awal nadham Alfiyah tersebut berbunyi :

...قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ مَالِكِ

"Muhammad yaitu putra Malik berkata".

Menurut kitab yang banyak menjadi menjadi syarah Alfiyah, menyebutkan bahwa meskipun bentuknya adalah madhi, namun dalam hal makna ia menunjukkan zaman mudharik.

Berikut kekhasan dari beribu kekhasan atau malah juta-an kekhasan yang ada di maha karya Alfiyah Ibnu Malik. Pada halaman pertama, kita langsung disajikan panorama yang lain dari kitab lainnya, yang kemungkinan untuk beberapa dari kita akan dibikinnya berpikir dan berangan-angan. Ini memperlihatkan dan menjadi parameter dari begitu tingginya kandungan intelektualitas dan kepandaian beliau, di mana di saat beliau membuat dan menulis kitab Alfiyah Ibn Malik, 1002 nadham (bait) yang menjadi isinya sudah beliau taruh dalam ingatan otak beliau. Sehingga beliau tinggal menulis dan menyusun saja sesuai apa yang sudah terekam dalam otak beliau. Hal yang langka dilaksanakan oleh mushanif lain dalam membuat suatu karya.

Sebuah perihal menarik yang lain terjadi di awal penyusunan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Yaitu mengenai kenapa dalam Alfiyah Ibn Malik ada 1002 nadham, walau sebenarnya cuma ada 1000 bait saja, sesuai dengan namanya "Alfiyah" yang memiliki arti seribu. Sesudah beliau (Imam Ibn Malik) menaruh semua isi kitab Alfiyah Ibn Malik dalam memori otak beliau, beliau juga mencoba merealisasikannya berbentuk formasi sebuah kitab. Beliau catat tiap huruf, kalimat, dan pada akhirnya tersusun jadi sebuah nadham yang utuh. Demikian terus berjalan. Tetapi satu peristiwa aneh terjadi. Di saat beliau sampai pada baris bait ke-5, yang berbunyi :

...فَائِقَةً أَلفِيَةَ ابْنِ مُعْطِي

"Kitab Alfiyyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyah karya Ibn Mu'thi."

Setelah menuliskan bait tersebut, mendadak semua hafalan dan ingatan dalam memori beliau, semua perancangan 1000 nadham itu pupus, lenyap dan beliau tidak ingat satu huruf pun. Ketidaktahuan, kegelisahan menimpa dan mengganggu hati beliau. Beberapa hari lamanya penulisan kitab ini berhenti. Sampai suatu saat beliau berziarah ke pusara Imam Ibn Mu'thi. Imam Ibn Mu'thi ini sebagai guru dari Imam Ibnu Malik. Beliau mempunyai kitab formasi yang berisi 1000 nadham, yakni lebih dikenali dengan Alfiyah Ibn Mu'thi. Sebagai usaha menyingkirkan kesedihan hati, beliau (Imam Ibn Malik) membaca tahlil, tahmid, dan takbir di pusara gurunya, kemudian beliau tertidur.

Dalam tidurnya beliau mimpi berjumpa dengan Imam Ibn Mu'thi yang memberinya teguran jika apa yang Imam Ibnu Malik kerjakan di saat membuat kitab Alfiyah ini, ada satu kekeliruan. Imam Ibnu Mu'thi berbicara "Wahai muridku apa kamu lupa siapakah saya ini? Beliau juga terjaga dari keterjagaannya dan masih juga dalam ketidaktahuan dan kaget, beliau terpikir akan sebuah nadham paling akhir yang beliau catat. "Ya di sanalah akar persoalannya," pikir beliau.

Dalam nadham paling akhir yang beliau catat, beliau mengatakan jika kitab Alfiyah yang beliau atur ialah kitab yang lebih unggul dari kitab Alfiyah yang diatur lebih dulu oleh guru beliau yaitu Imam Ibnu Mu'thi. Perihal ini benar-benar berlawanan dengan adabul karimah, tata krama yang semestinya dilaksanakan oleh seorang murid kepada gurunya.

Selanjutnya, untuk menebus kekeliruan dan sebagai rasa permohonan maaf dan ampunan dari Allah Swt serta guru beliau itu, beliau kemudian menyusun dua nadham berikut ini :

وَهُوَ بِسَبْقِ حَائِزٌ تَفْضِيْلَا | مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الجَمِيْلَا

"Meski begitu, beliau (Imam Ibnu Mu'thi) tetaplah mempunyai keunggulan dan patut disanjung. Karena dalam mengarang kitab Alfiyah, beliau terlebih dulu daripada saya (Imam Ibnu Malik)".

وَاللّهُ يَقْضِي بِهِبَتٍ وَافِرَةْ | لِي وَلَهُ فِى دَرَجَاتٍ أَخِرَةْ

"Mudah-mudahan Allah melipatgandakan pahala yang diberikan kepadaku dan kepada guruku (Imam Ibnu Mu'thi) kelak di akhirat nanti".

Sesudah beliau membuat dua bait nadham di atas sebagai pernyataan hati beliau, karena itu dengan ijin Allah semua formasi 1000 nadham yang sebelumnya lenyap dari daya ingat memori beliau saat itu juga balik lagi dan Imam Ibnu Malik bisa melanjutkan penyusunan kitab Alfiyah-nya.

Dari rincian narasi di atas, bisa dijumpai yang sebelumnya nadham Alfiyyah Ibnu Malik berjumlah 1000 bait, bertambah dua nadham pada bab Muqaddimah hingga jadi 1002 bait nadham.

Akan tetapi, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa adanya 1002 nadham tersebut tidak sepenuhnya berisi kaidah nahwu dan sharaf, ada 2 bait yang hanya berisi sya'ir Arab saja. Oleh karenanya dikatakan 1000 bait nadham Alfiyah. Wallahu a'lam bis shawab.

Posting Komentar untuk "Kisah dibalik 1002 Bait Nadham Alfiyah Ibnu Malik"